• Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

    Jumat, 02 September 2011

    NASA Temukan Bukti Kuat Adanya Air di Planet Mars

    Beberapa temuan baru pesawat antariksa NASA menunjukkan Planet Mars bisa mendukung kehidupan manusia di masa depan.

    Gambar yang dikirimkan orbiter NASA 'Reconnaissance' menunjukkan bukti adanya air di Planet Mars pada musim panas.

    Pesawat antariksa AS yang mengorbiti Planet Mars, Orbiter Mars Reconnaissance, menunjukkan ada kemungkinan planet itu suatu saat bisa mendukung kehidupan manusia. Orbiter itu telah menemukan bukti terkuat bahwa di Mars ada air yang mengalir pada musim panas.

    Charles Bolden, Kepala Badan Antariksa Nasional Amerika atau NASA, mengatakan Program Eksplorasi Planet Mars NASA terus membuat para ilmuwan makin dekat untuk mengetahui apakah Mars dapat mendukung sebagian kehidupan.

    Menurut dia, program itu telah menunjukkan bahwa Mars adalah tujuan penting bagi eksplorasi manusia di masa depan.

    Orbiter Mars Reconnaissance mengkaji banyak lereng gunung di sepanjang belahan bagian selatan Mars. Garis gelap pada sisi gunung terlihat seperti jari-jari. Tanda-tanda ini muncul dan hilang seiring pergantian musim.

    Tanda-tanda itu muncul ketika suhu planet Mars naik. Mereka terlihat lebih besar ketika bergerak ke lereng gunung. Ketika suhu dingin, garis gelap itu menghilang. Tetapi, muncul lagi di planet Mars pada musim semi selanjutnya, atau musim panas.

    Alfred McEwen, Investigator Utama dalam Eksperimen Pemotretan Beresolusi Tinggi Orbiter Mars yang juga Professor Geologi Planet pada Universitas Arizona di Tucson, menyatakan aliran air yang asin merupakan penjelasan terbaik dari observasi orbiter planet Mars. Pesawat antariksa lain dan berbagai meteorit Mars telah menunjukkan bahwa permukaan Mars asin.

    Menurut McEwen, air di planet Mars bisa berbeda dari yang ditemukan di bumi. Dia menyebut air pada planet Mars lebih seperti cairan kental. Majalah “Science” mempublikasikan laporan mengenai temuan-temuan orbiter tersebut.

    McEwen dan timnya percaya bahwa air kemungkinan mengalir di planet Mars purbakala. Tetapi, apakah air di planet Merah itu eksis sebagai cairan masih dapat diperdebatkan. Hasil oksidasi besi pada planet Mars membuat planet itu berwarna kemerahan.

    Philip Christensen, ahli geologi pada Arizona State University, menegaskan para ilmuwan telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa es ada di planet Mars.

    “Kami tahu planet Mars punya banyak es. Tetapi, ini bukan pertama kalinya kami telah melihat potensi akan air cair. Itu mungkin air asin. Tapi itu memang cair. Dan saya pikir, itulah kunci yang nyata di sini. Bukannya planet Mars tidak punya banyak es, tetapi air cair – yang pasti bagi sebuah organisme—sangat berbeda dari es,” papar Philip Christensen.

    Ahli geologi Lisa Pratt dari Indiana University menyambut baik hasil penelitian itu. Menurut dia, temuan itu akan membantu para ilmuwan merencanakan perjalanan di masa depan untuk mencari tanda-tanda kehidupan pada Mars masa kini.

    Satu Lagi Planet Layak Huni Ditemukan

    Astronom berhasil menemukan satu lagi planet yang mirip Bumi dan kemungkinan layak dihuni makhluk hidup. Planet tersebut bernama HD85512b, merupakan planet yang mengorbit bintang katai oranye dan ada pada jarak 36 tahun cahaya dari Tata Surya di konstelasi Vela.

    HD85512b ditemukan lewat penelitian menggunakan High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher (HARPS), European Southern Observatory di Chile. Radial velocity adalah teknik memburu planet dengan cara melihat perubahan cahaya bintang yang diorbit.

    Data HARPS menunjukkan bahwa HD85512b memiliki massa 3,6 kali Bumi. Selain itu, planet yang baru saja ditemukan ini juga punya jarak pas dengan bintang induknya sehingga memungkinkan keberadaan air dalam wujud cair di permukaannya.

    "Jaraknya adalah tepat pada batasan yang memungkinkan Anda untuk memiliki air dalam wujud cair," kata Lisa Kaltenegger dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics dan Max Planck Institute for Astronomy. "Jika Anda membandingkan dengan Tata Surya kita, planet ini sedikit lebih jauh dari jarak Matahari Venus," kata Kaltenegger seperti dikutip National Geographic, Selasa (30/8/2011). Ini berarti planet ini lebih banyak menerima energi dari bintangnya dibandingkan dengan Bumi.

    Kaltenegger mengatakan, planet ini juga memiliki tutupan awan sedikitnya 50 persen untuk merefleksikan panas dari bintangnya, mencegah pemanasan yang berlebihan. Tutupan awan ini mendekati tutupan awan Bumi, yang rata-rata sekitar 60 persen.

    Tutupan awan mengindikasikan adanya atmosfer yang mirip Bumi. Untuk menelaah atmosfer masih belum memungkinkan karena jarak yang cukup jauh. Namun, dipercaya bahwa planet bermassa kurang dari 10 kali massa Bumi memiliki atmosfer yang mirip Bumi, didominasi nitrogen dan oksigen.

    HD85512b merupakan planet batuan kedua yang memiliki kemiripan dengan Bumi. Berdasarkan jarak dengan bintangnya, planet ini bisa dikatakan layak huni sebab ada pada zona yang tak terlalu panas maupun tak terlalu dingin. Planet sebelumnya yang dikatakan layak huni adalah Gliese 581d yang sebelumnya juga ditemukan dengan instrumen HARPS. Sebenarnya juga ada Gliese 581g yang juga diklaim layak huni. Namun, klaim planet terakhir ini masih kontroversi.

    Manfred Cuntz, direktur program astronomi University of Texas di Austin mengatakan, selain soal ukuran dan jarak, ada faktor lain yang membuat HD85512b bisa dikatakan sebagai planet layak huni, bukan hanya klaim belaka. Salah satu faktor lain itu adalah orbit planet yang mendekati lingkaran sehingga memungkinkan iklim yang stabil. Faktor lain, bintang induk yang bernama HD85512 memiliki usia lebih tua dari Matahari sehingga kurang aktif, mengurangi resiko akibat badai elektromagnetik.

    Cuntz menambahkan, usia dari tata surya tempat HD85512b bernaung adalah 5,6 miliar sehingga bisa mendukung kehidupan. Sebagai perbandingan, Tata Surya tempat Bumi bernaung diperkirakan berumur 1 miliar tahun lebih muda, alias 4,6 miliar tahun.

    Sayangnya, dengan segala potensi mendukung kehidupan, masih belum mungkin bagi manusia untuk menuju planet itu. Jika pun bisa, manusia pasti merasa asing karena kondisi planet yang panas, lembab dan gravitasi yang 1,4 kali lebih besar daripada Bumi. "Hot yoga mungkin adalah hal yang Anda bisa nikmati dengan gratis di sana," canda Kaltenegger.

    Paper yang mendeskripsikan HD85512b ini telah muncul di arXiv.org dan telah diterima untuk dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics.

    Chandra Temukan Pasangan Lubang Hitam Terdekat

    Teleskop Chandra X Ray yang digunakan oleh para astronom berhasil menemukan pasangan lubang hitam supermasif di galaksi spiral seperti Bimasakti. Terletak pada jarak 160 juta tahun cahaya, pasangan lubang hitam tersebut juga merupakan pasangan lubang hitam terdekat dari Bumi.

    Galaksi tempat pasangan lubang hitam tersebut bernaung bernama NGC 3393. Pasangan lubang hitam hanya terpisah sejauh 490 tahun cahaya. Para astronom berpendapat bahwa pasangan lubang hitam itu adalah hasil penggabungan miliaran tahun lalu di antara dua galaksi berjarak dekat dan berbeda massa.

    "Jika dua galaksi tersebut tidak cukup dekat, maka kita tak memiliki kesempatan untuk memisahkan dua lubang hitam itu seperti yang kita lakukan sekarang," kata Pepi Fabbiano dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip Physorg, Rabu (31/8/2011).

    Fabbiano, yang memimpin studi yang dipublikasikan di Nature pada minggu lalu itu, menambahkan, "Karena galaksi ini tepat di depan hidung kita berdasarkan standar kosmik, kita menjadi penasaran ada berapa banyak pasangan lubang hitam yang belum ditemukan atau terlewat."

    Observasi sebelumnya dengan sinar-X dan sinar dengan panjang gelombang berbeda mengindikasikan adanya lubang hitam di galaksi NGC 3393. Namun, dengan Chandra X Ray, akhirnya didapatkan bahwa sebenarnya ada dua lubang hitam. Dua lubang hitam tersebut sama-sama sedang tumbuh.

    Astronom mengungkapkan, jika dua galaksi spiral bergabung, pasangan lubang hitam dan galaksi dengan wilayah pembentukan bintang yang intens seharusnya terbentuk. Contohnya adalah yang terjadi pada galaksi NGC 6240 pada jarak 330 juta tahun cahaya.

    Namun, astronom melihat bahwa NGC 3393 adalah galaksi spiral yang sangat teratur dengan bagian tengah terdiri dari bintang-bintang tua. Menurut para astronom, karakteristik ini tak biasa ditemukan pada galaksi yang memiliki pasangan lubang hitam.

    Astronom juga mengatakan bahwa NGC 3393 mungkin juga merupakan galaksi pertama hasil merger antara galaksi besar dan kecil, disebut minor merger. Menurut teori, minor merger adalah cara paling umum dalam pembentukan pasangan galaksi. Meski demikian, selama ini buktinya sulit ditemukan.

    Astronom mengatakan, jika pasangan lubang hitam memang hasil minor merger, maka lubang hitam yang satu pasti memiliki massa lebih kecil sebelum galaksinya melakukan merger. Estimasi dari ukuran lubang hitam belum bisa dilakukan saat ini.

    Penemuan NGC 3393 memiliki kesamaan dengan kemungkinan penemuan pasangan lubang hitam supermasif pada jarak 2 miliar tahun cahaya dari Bumi oleh Julia Comerford dari University of Texas. Pasangan lubang hitam itu terdapat di galaksi yang tak memiliki fitur spiral seperti NGC 3393.

    Guido Risaliti, yang juga terlibat penelitian ini, mengatakan, "Tabrakan dan merger adalah salah satu cara terpenting bagi galaksi dan lubang hitam untuk tumbuh. Mencari pasangan lubang hitam di galaksi spiral adalah jalan keluar untuk menjawab bagaimana ini bisa terjadi."

    Selasa, 30 Agustus 2011

    Reaktor Nuklir Mungkin Dibangun di Bulan

    Reaktor nuklir akan dibangun di Bulan dan mungkin juga Mars. Hal ini dikatakan oleh James E Werner, pemimpin proyek pengembangan tersebut, dalam National Meeting & Exposition of the American Chemical Society (ACS) yang berlangsung pada Minggu (28/8/2011).

    "Orang tidak akan menyadari keberadaan reaktor nuklir ini nantinya. Reaktornya mungkin hanya selebar 1,5 kaki dan tinggi 2,5 kaki (30 x 60 cm), kurang lebih hanya sebesar tas kopor," kata Werner seperti dikutip Physorg, kemarin.

    Lebih lanjut, Werner mengatakan bahwa reaktor nuklir itu tidak memiliki tower pendingin seperti reaktor nuklir di Bumi. Reaktor nuklir terseebut dikatakan aman, terpercaya, dan sangat compact, bisa menjadi pembangkit daya di Bulan, Mars, ataupun tujuan misi lainnya. Reaktor nuklir iru dikembangkan atas kerja sama National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan US Department of Energy (DOE).

    Werner sendiri memimpin Idaho National Laboratory yang terlibat dalam proyek ini. Rencananya, reaktor nuklir akan didemonstrasikan pada 2012 mendatang. Jika reaktor ini terwujud maka akan sangat mendukung misi antariksa di masa mendatang. Selama ini dukungan daya untuk misi antariksa bersumber dari sel bahan bakar dan tenaga surya, yang memiliki keterbatasan dalam aplikasinya.

    "Perbedaan antara tenaga surya dan tenaga nuklir adalah bahwa tenaga nuklir bisa diaplikasikan di segala kondisi lingkungan. Teknologi fisi tidak tergantung pada cahaya matahari, memungkinkan produksi daya besar pada malam hari di lingkungan seperti Bulan, Mars, atau planet lain," urai Werner.

    Werner menambahkan, reaktor nuklir bisa memproduksi daya sekitar 40 KW atau lebih, jumlah yang sama dari energi yang diproduksi oleh 8 reaktor nuklir di Bumi. Keunggulan lain, reaktor bisa bekerja di mana saja, di kawah ataupun di gua.

    Menurut Werner, secara umum reaktor angkasa ini memiliki cara kerja yang sama dengan reaktor yang ada di Bumi. Namun, beberapa perbedaan dimiliki, misalnya soal berat. Di angkasa, berat harus seminimal mungkin.

    Werner mengatakan, begitu teknologi ini matang dan bisa diaplikasikan, misi antariksa akan sangat terbantu. Eksplorasi ke berbagai penjuru semesta bisa dilakukan tanpa harus memikirkan ketersediaan cahaya Matahari.

    Senin, 29 Agustus 2011

    Mars Dahulu Memiliki Samudra

    Alberto Fairen, pakar astrobiologi di SETI Institute NASA Ames Research Center, dan rekannya menemukan bahwa patahan kerak purba dataran rendah belahan utara Mars lebih minim grup mineral phyllosilicate dibandingkan dataran rendah belahan selatannya. Grup mineral phyllosilicate biasanya didapatkan di sedimen laut Bumi. Penemuan itu memacu ilmuwan untuk berteori bahwa bagian utara Mars dulu merupakan samudra.

    "Analisis multidisiplin menjelaskan adanya samudra di Mars masa lalu. Jika ada samudra di Mars masa lalu, maka samudra itu adalah glasial dingin, seperti laut di kutub Bumi. Tepian samudra dibingkai oleh glasier dan samudra tertutupi es," jelas Fairen.

    Memberi penjelasan lebih lanjut, keberadaan laut yang dingin dan glasier yang besar akan menghambat pembentukan dan deposit grup mineral phyllosilicate. Hal ini menjadi penjelasan mengapa bagian utara Mars memiliki kandungan grup mineral jenis tersebut lebih sedikit daripada bagian selatan.

    Penemuan ini juga bisa menawarkan pandangan baru tentang kondisi Mars di masa lalu. Sebelumnya, ada dua teori tentang iklim Mars masa lalu. Pertama adalah iklim ingin dan kering dan kedua adalah hangat dan basah. Kondisi hangat dan basah menyiratkan bahwa Mars pernah mendapat curah hujan, punya danau, dan sebagainya. Dengan penemuan ini, kondisi Mars masa lalu mungkin bukan seperti yang diteorikan.

    "Mars yang dingin dan basah mungkin akan menjadi solusi dari teka-teki yang bertahan selama puluhan tahun ini, dan keberadaan samudra di belahan utara Mars akan sangat pas dengan skenario ini," jelas Fairen seperti dikutip Space, Minggu (28/8/2011).

    Untuk memantapkan pandangan ini, ilmuwan kini tengah mencari bukti tambahan bahwa iklim di Mars sesuai yang diteorikan. Mereka menganalisis fitur glasial pantai, mencari tanda-tanda keberadaan gunung es, dan mempersiapkan model geokimia temperatur rendah.

    Minggu, 28 Agustus 2011

    Kristal Langka Tak Terduga di Meteorit

    Peneliti Jepang menemukan kristal seperti opal di sebuah meteor jatuh di Kanada pada 2000. Temuan ini menjadi temuan kristal tak biasa pertama dari benda luar angkasa.

    Ilmuwan dari Tohoku University mengatakan, kristal ini terbentuk di awan debu yang dihasilkan matahari dan planet di tata surya ini pada 4,6 miliar tahun silam. Kristal tak biasa ini memiliki potensi penggunaan yang luar biasa.

    "Kristal Koloidal seperti opal yang terbentuk dari rangkaian partikel tua ini memiliki potensi luar biasa untuk digunakan dalam elektronik baru dan perangkat optik," ungkap peneliti Karsuo Tsukamoto seperti dikutip UPI.

    Formasi kristal di meteorit Tagish Lake ini memiliki beberapa kondisi signifikan hingga bisa terbentuk.

    "Pertama, jumlah solusi air harus pada meteorit untuk membubarkan partikel koloidal,” ujarnya.

    Solusi air harus ditaruh di ruang hampa kecil untuk tempat kristal terbentuk, lanjutnya.

    "Kondisi ini menyatakan, kristal tersebut terbentuk 4,6 miliar tahun silam,” tutupnya seperti dikutip UPI.

    Temuan ini diterbitkan di Journal of the American Chemical Society. [mor]

    Kamis, 25 Agustus 2011

    2013 Listrik di Seluruh Dunia Akan Mati?

    Seorang ilmuwan ternama dari Badan Samudera dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat Dr Kathryn Sullivan kemarin memperingatkan badai matahari bakal mencapat puncaknya dua tahun lagi.

    Ia menegaskan puncak badai matahri itu dapat merusak satelit komunikasi, sistem navigasi, jaringan telepon, dan peralatan transmisi listrik. Badai ini juga melepaskan partikel yang mampu merusak sirkuti computer secara sementara atau permanen.

    “Ini benar-benar bakal menjadi sebuah masalah ketika badai matahari itu menghantam planet kita,” kata Sullivan dalam Konferensi PBB mengenai iklim global di Jenewa, Swiss. Ia merupakan mantana astronot NASA (Badan Antariksa Nasional Amerika) yang pada 1989 menjadi perempuan pertama yang berjalan di ruang angkasa

    Peringatan serupa juga pernah disampaikan para ahli astronom Februari lalu. Menurut mereka, manusia bakal lebih rentan terhadap akibat puncak badai matahari pada 2013. Mereka meminta semua negara bersiap menghadapi musibah global semacam topan Katrina yang pernah melanda negara Abang Sam itu.

    Para ahli juga memperingatkan badai matahari mendatang dapat menyebabkan listrik di seluruh dunia mati selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Puncak badai matahari ini berlangsung saban 11-12 tahun. Terakhir berlangsung pada 2001, namun efeknya terhadap Bumi lemah.

    Badai besar matahri pada 1972 telah memutus jaringan telepon jarak jauh di Negara Bagian Illinois, Amerika. Peristiwa serupa pada 1989 mengakibatkan listrik mati di seantero Provinisi Quebec, Kanada.

    Rabu, 24 Agustus 2011

    Nginap di Hotel Luar Angkasa Seharga Rp. 7 Miliar

    Rusia kemarin mengumumkan rencana menempatkan sebuah hotel di ruang angkasa yang dapat ditempati tujuh tamu dalam empat kabin dan memiliki jendela besar untuk melihat Bumi berputar di bawahnya.



    Untuk sampai ke hotel itu memakan waktu dua hari dengan roket Soyuz. Untuk tinggal selama lima hari, Anda akan dikenakan biaya £ 100.000 (Rp 1,4 miliar) dan biaya perjalanan £ 500.000 (Rp 7 miliar).



    Hotel itu, Commercial Space Station, akan dibuka tahun 2016. Menurut mereka yang berada di balik rencana itu, hotel ini jauh lebih nyaman dari Stasiun Luar Angkasa Internasional yang digunakan oleh astronot dan kosmonot.



    Dalam ruang tanpa bobot, pengunjung dapat memilih tempat tidur vertikal atau horisontal dan juga disediakan ruang untuk mandi. Di kapal Stasiun Luar Angkasa Internasional mereka menggunakan spons mandi sampai mereka kembali ke rumah.



    Wisatawan, yang akan didampingi oleh awak berpengalaman, akan mendapat makanan yang disiapkan di Bumi dan akan dipanaskan dalam microwave.



    Tidak seperti makanan beku yang diberikan kepada astronot, pengunjung akan mendapatkan makanan lezat, seperti sapi rebus dengan jamur liar, sup buncis, sup kentang, dan kolak plum.



    Es teh, air mineral, dan jus buah akan tersedia, tetapi alkohol dilarang. Toilet akan menggunakan udara yang mengalir, bukan air.



    Air limbah akan didaur ulang, sementara udara akan disaring untuk menghilangkan bau dan bakteri dan kemudian dikembalikan ke kabin.



    Sergei Kostenko, Kepala Eksekutif Orbital Technologies yang akan membangun hotel itu, mengatakan, "Rencana modul kami tidak akan mengingatkan Anda akan Stasiun Luar Angkasa Internasional. Sebuah hotel harus nyaman dan akan mungkin melihat Bumi melalui lubang intip besar."



    "Hotel itu ditujukan untuk orang kaya dan orang yang bekerja untuk perusahaan swasta yang ingin melakukan penelitian di ruang angkasa." (tempo)

    Senin, 15 Agustus 2011

    Tanggal Zodiak Berubah, Ada 13 Zodiak

    Profesor Parke Kunkle mengatakan:

    "Right now its pointing this way, the North Star, but 3000 BC it was pointing differently" Kunkle said. “Now things have moved and the sun is in a different constellation. We're about a whole constellation off.“

    And don’t forget Ophiuchus, astrology’s orphan.

    "Ophiuchus has been a constellation for years and it just gets left out," Kunkle said.

    Jadi sekarang jumlah zodiak udah gak 12 lagi, melainkan 13 karena udah bertambah zodiak baru yaitu, Opiuchus. Opiuchus dikatakan merupakan zodiak yang udah ada sejak dulu hanya terlupakan (gak tau kenapa).
    Sekarang mari kita lihat lihat perubahan pembagian zodiak yang lama dengan yang baru dari info yang saya temukan di internet
    Pembagian zodiak yang lama (versi Babylonia kuno):

    - Aquarius: 20 Januari-18 Februari
    - Pisces: 19 Februari-20 Maret
    - Aries: 21 Maret-19 April
    - Taurus: 20 April-20 Mei
    - Gemini: 21 Mei-20 Juni
    - Cancer: 21 Juni-22 Juli
    - Leo: 23 Juli-22 Agustus
    - Virgo: 23 Agustus-22 September
    - Libra: 23 September-22 Oktober
    - Scorpio: 23 Oktober-21 November
    - Sagitarius: 22 November-21 Desember
    - Capricorn: 22 Desember-19 Januari


    Pembagian zodiak yang baru setelah sumbu bumi bergeser:

    - Aquarius: 17 Februari-11 Maret
    - Pisces: 12 Maret-18 April
    - Aries: 19 April-13 Mei
    - Taurus: 14 Mei-21 Juni
    - Gemini: 22 Juni-20 Juli
    - Cancer: 21 Juli-10 Agustus
    - Leo: 11 Agustus-16 September
    - Virgo: 17 September-30 Oktober
    - Libra: 31 Oktober-23 November
    - Scorpio: 24 November-29 November
    - Ophiuchus: 30 November-17 Desember
    - Sagitarius: 18 Desember-20 Januari
    - Capricorn: 21 Januari-16 Februari

    Dan pada akhirnya Prof. Parke Kunkle, Minneapolis Community dan Technical College and Minnesota Planetarium Society board member memberikan pernyataan:

    ”In science we deal with a long tradition of fact based investigation. We are not in the business of interpreting the purported relation between the positions of planets and human affairs.

    “The Earth spins and, like a toy top, the spin axis moves around, pointing in different directions. Today, Earth's spin axis points toward the pole star, Polaris. Around 3000 BC Earth's spin axis pointed toward Thuban. Wait 26,000 years and the north star will again be Thuban. Astronomers call this motion of the spin axis precession. About 130 BC, Hipparchus noticed that the Earth's spin axis had changed directions, so astronomers and astrologers have known about the Earth's precession for over 2000 years.

    “But this means that if the sun was "in" a certain constellation on a particular date, it is in a different constellation on that date today. For example, the sun was in Pisces on March 1, 2000 BC but it is in Aquarius on March 1, 2011 AD.”

    Terungkap Misteri Semburan Air di Bulan Saturnus

    London – Bulan Saturnus, Enceladus, menyemburkan air di sekitar planet ‘ibunya’. Kini, ilmuwan berhasil memecahkan apa yang telah menjadi misteri selama 14 tahun itu.

    Teleskop laur angkasa milik Badan Luar Angkasa Eropa Herschel berhasil memecahkan misteri 14 tahun itu setelah mengidentifikasi sumber air di bagian atas Saturnus. Artinya, Enceladus merupakan satu-satunya bulan di tata surya yang terpengaruh komposisi kimia planet induknya.

    Bulan Saturnus ini menyemburkan 250 kg air tiap detik melalui koleksi jet dari kutub selatannya yang dikenal sebagai Tiger Stripes karena tanda nyata di permukaanya. Penelitian krusial ini mengungkap, air menciptakan uap berbentuk donat di sekeliling planet bercincin itu.

    Awalnya, ukuran besar uap ini luput dari pengamatan namun berkat rancangan khusus Herschel, gelombang inframerah yang ada pada teleskop itu mampu ‘menangkapnya’. Atmosfer Saturnus dikenal menyimpan jejak gas air dalam lapisannya yang lebih dalam seperti ditulis Dailymail.

    Air yang ada pertama dilaporkan pada 1997 oleh tim saat menggunakan Infrared Space Observatory ESA dan sumber air yang ada masih tak diketahui, setidaknya hingga kini. Namun, berkat model komputer, diketahui, sumber air berasal dari es yang jatuh ke Saturnus atau bulan Saturnus lainnya.

    "Tak ada analogi pada perilaku ini,” ujar Kepala peneliti Paul Hartogh dari Max Planck Institute for Solar System Research di Katlenburg-Lindau, Jerman. Bagian kecil yang jatuh ke planet ini cukup menjelaskan air yang ada di atmosfer atas. [mor]

    Selasa, 08 Maret 2011

    Ilmuwan NASA Temukan Bakteri Alien di Meteor

    Klaim tidak biasa itu diungkapkan Dr. Richard Hoover, astrobiologi di Marshall Space Flight Center, NASA, setelah 10 tahun mempelajari bakteri mungil di meteorit yang jatuh di berbagai kawasan di seluruh dunia.


    Hoover mengaku telah melakukan perjalanan ke Antartika, Siberia dan Alaska untuk mempelajari bentuk paling aneh di meteor, CT1 carbonaceous chondrites. Materi ini hanya sembilan buah di Bumi.

    Melihat lebih jauh lewat mikroskop, Hoover menemukan beberapa fosil bakteri di CT1 carbonaceous chondrites. Beberapa diantaranya mirip dengan bakteri di bumi namun yang lainnya tidak terjelaskan, seperti alien.

    Terbaru, Hoover menemukan sebuah meteorit yang berisi organisme dengan ukuran dan struktur yang sama dengan bakteri raksasa Titanospirillum velox, organisme yang ditemukan di atas Bumi. Hoover percaya bakteri itu telah menyebar lebih luas dari perkiraan.

    "Saya mengira bakteri baru itu merupakan indikasi kehidupan telah berkembang luas dari perkiraan sebelumnya. Dalam banyak kasus, bakteri itu bisa disejajarkan dengan beberapa spesies di Bumi,” kata Hoover kepada Fox News. Penemuan ini dipublikasikan di Journal of Cosmology. [inilah]

    Senin, 07 Maret 2011

    NASA Luncurkan Roket 'Perubahan Iklim'

    NASA telah meluncurkan sebuah roket bernama Taurus XL yang membawa satelit untuk mengobservasi perubahan iklim di Bumi.

    Pihak resmi Vandenberg Air Force mengatakan kalau roket Taurus XL yang membawa satelit Glory milik NASA telah diluncurkan pada waktu 2:09 pagi waktu setempat, dari pangkalannya. Demikian seperti yang dikutip dari 3 News, Sabtu (5/3/2011).

    Satelit Glory akan diluncurkan untuk misi selama tiga tahun untuk menganalisa bagaimana partikel terbang berdampak pada iklim di Bumi.

    Di samping untuk memonitor partikel di atmosfir, satelit tersebut juga akan melacak radiasi sinar matahari untuk meneliti seberapa besar efek sinarnya pada perubahan iklim di Bumi.

    Misi yang memakan dana sebesar USD424 juta diatur oleh Goddard Space Flight Center dari NASA di Maryland.(techno.okezone)

    Roket Pembawa Satelit NASA 'Terjun' ke Laut

    Misi NASA meluncurkan roket Taurus XL pembawa satelit untuk mengobservasi perubahan iklim di bumi gagal total. Hanya beberapa menit setelah diluncurkan, roket itu 'terjun bebas' ke Samudera Pasifik.


    Belum lama ini, NASA meluncurkan roket Taurus XL yang membawa satelit Glory, pukul 2:09 pagi setempat dari pangkalan Vandenberg Air Force di California. Satelit Glory akan diluncurkan untuk misi selama tiga tahun untuk menganalisa dampak partikel terbang terhadap iklim di bumi.

    Namun, misi yang memakan dana sebesar USD424 juta itu ternyata gagal total. Taurus XL hanya sempat meluncur selama beberapa menit sebelum jatuh ke laut. Ini merupakan kali kedua insiden memalukan tersebut terjadi, setelah jenis roket yang sama juga terjatuh, 2009 lalu.

    "Kejadian ini sangat memalukan. Mereka melewatkan sesuatu pada investigasi (atas insiden pertama) serta pekerjaan yang mereka lakukan setelah itu," cetus profesor Henry Lambright dari Syracuse University sebagaimana dikutip Yahoonews, Sabtu (5/3/2011).

    Misi yang dilangsungkan divisi lingkungan NASA kerap mengalami kegagalan belakangan ini. Para pengamat menilai, pemotongan budget yang dilakukan pemerintah terhadap agensi aeronautika dan luar angkasa itu menjadi salah satu penyebabnya.

    Kendati begitu, ketua Earth Science NASA, Michael Freilich, menegaskan, masalah yang dihadapi NASA tidaklah seburuk itu. "Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa NASA kini tengah menerbangkan 13 misi riset, yang akan membawa kemajuan besar untuk ilmu bumi kita," ungkapnya.(techno.okezone)

    Sabtu, 26 Februari 2011

    Google Luncurkan 29 Robot ke Bulan

    Kompetisi robot penjelajah Bulan, Google Lunar X-Prize segera dimulai. Sebanyak 29 robot dari 17 negara telah terpilih sebagai finalis dan akan segera dikirim ke permukaan Bulan untuk memperebutkan hadiah 30 juta dollar AS dari Google.

    "Perlombaan ke Bulan dimulai secara resmi," kata Peter Diamandis, Kepala Eksekutif X-Prize Foundation, seperti dilansir situs web BBC. Lomba tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan robot penjelajah dengan biaya murah.


    Proses seleksi telah dimulai sejak lomba diumumkan tahun 2007 dan ditargetkan dapat menghasilkan pemenang tahun 2015. Robot pertama yang berhasil mendarat ke Bulan dan mengirim video ke Bumi selama bergerak 500 meter di permukaan Bulan akan keluar menjadi pemenang.

    Peserta lomba ini berasal dari bermacam latar belakang, mulai dari perorangan, organisasi nonprofit, universitas, hingga kalangan industri. Beberapa tim telah menggandeng penyedia roket peluncuran ke Bulan untuk mengirimkan robotnya. Tentu kerja sama tersebut tidak dilakukan dengan inisiatif sendiri, melainkan atas dukungan penyelenggara.

    Misalnya Astrobotic Technology dari Carnegie Mellon University yang telah menandatangani kontrak dengan SpaceX untuk menggunakan roket Falcon X. Tim gabungan Rusia dan India serta tim China juga akan mengirimkan sebuah roket bersama pada tahun 2013.

    "Penemuan paling sukses dan revolusioner sering muncul dari tim yang kecil, tetapi berjiwa entrepreneur," ujar Tiffany Montague, pejabat Google Space Initiative. Nah, tim mana yang akan keluar sebagai pemenang? Ikuti saja perkembangannya. (kompas)

    Sabtu, 19 Februari 2011

    Berkunjung ke Mars Dengan "Taksi Asteroid"



    Ke Mars dengan "taksi asteroid"

    Studi terbaru menemukan bahwa para penjelajah angkasa di masa mendatang bisa mencapai planet merah Mars dengan "membonceng" asteroid. Mereka akan berkendara di sisi sebelah dalam asteroid.



    Mendaratkan pesawat luar angkasa di landasan batu asteroid ditinjau dapat menyiasati masalah utama setiap kali misi menuju Mars, yakni perlindungan dari sinar kosmik ataupun partikel-partikel berenergi tinggi yang banyak berkeliaran dengan kecepatan cahaya di luar angkasa.

    Radiasi sinar kosmik membawa efek buruk bagi tubuh manusia. Ia dapat merusak DNA dan juga meningkatkan risiko kanker serta katarak. Penelitian pun mengungkap bahwa sejumlah tertentu radiasi akan membombardir astronaut selama ratusan hari perjalanan mengelilingi Mars akan meningkatkan risiko kanker 1-19 persen.

    "Maka ketimbang memusatkan perhatian untuk membangun pelindung yang lebih baik terhadap radiasi, kita perlu memikirkan desain pesawat antariksa yang dapat melompat ke dalam dan ke luar asteroid yang tengah melintas," kata Gregory Matloff, seorang ahli fisika dari New York City College of Technology.

    Taksi-asteroid ini membutuhkan luas sekitar 10 meter lebar, sudah cukup untuk memberikan perlindungan yang layak. Sejauh ini telah diketahui lima jenis asteroid yang cocok pada kriteria, dan kelimanya diperkirakan akan melewati Bumi menuju ke Mars sebelum tahun 2100.

    Bagaimana pun, teori Matloff masih harus mengkaji lagi berbagai hal dan resiko, sebelum direalisasikan sebagai model baru perjalanan luar angkasa.

    (Sumber: National Geographic News)

    Jumat, 18 Februari 2011

    Dua Galaksi Ciptakan Black Hole Raksasa

    Dua Galaksi Ciptakan Black Hole Raksasa


    Gambar di bawah ini mirip cincin permata luar angkasa. Yang mengejutkan, cincin lubang hitam itu berasal dari Arp 147, sepasang galaksi sejauh 430 juta tahun cahaya dari Bumi.


    Gambar komposit ini berasal dari data yang dikumpulkan Chandra X-ray Observatory dan Hubble Space Telescope milik NASA. Informasi Chandra menyebutkan data optik warna merah muda, sedangkan Hubble berwarna merah, hijau dan biru.

    Arp 147 terdiri dari sisa galaksi spiral yang bertabrakan dengan galaksi elips. Tabrakan ini menghasilkan gelombang formasi bintang sehingga tampak cincin biru.Hal tersebut mengandung banyak bintang muda.

    Bintang-bintang tersebut mengalami evolusi dalam beberapa juta tahun kemudian meledak, seperti supernova, sehingga menciptakan bintang-bintang neutron dan lubang hitam. Sebuah fraksi bintang neutron dan lubang hitam akan membentuk bintang pendamping.

    Sembilan sumber X-ray di sekitar cincin Arp 147 tampak sangat bersinar dibandingkan lubang hitam karena memiliki bobot 10 hingga 20 kali lebih besar dari matahari. Sumber X-ray juga terdeteksi di inti galaksi merah.

    Berdasarkan pengamatan ultraviolet dan teleskop NASA, ilmuwan bisa memprediksi model evolusi bintang biner sehingga memahami pembentukan bintang terkuat mungkin berakhir 15 juta tahun lalu, dalam kerangka waktu Bumi.

    Hasil penelitian disampaikan penulis Saul Rappaport, Alan Levine dan Benjamin Steinhorn dari Massachusetts Institute of Technology bersama dengan David Pooley dari Eureka Scientific, di jurnal Astrophysical.

    Senin, 24 Januari 2011

    Jejak UFO Muncul di Jogja


    Laporan Reporter Tribun Jogja, Hendi Kurniawan

    SLEMAN, KOMPAS.com — Fenomena unik terjadi Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu (23/1/2011). Padi ambruk di tengah sawah membentuk pola lingkaran yang sangat rapi. Seperti pola itu sengaja dibuat manusia. Istilah ilmiah untuk fenomena ini biasa disebut dengan istilah crop circles atau lingkar taman.

    Menurut keterangan Basori (41), warga yang rumahnya berada di utara sawah itu, Sabtu (22/1/2011) malam sekitar pukul 22.30, dirinya mendengar suara gemuruh layaknya suara helikopter mendarat. "Suara itu terdengar sekitar 30 menit, tetapi saya tidak gubris suara itu. Saya pikir itu suara helikopter lewat," tuturnya.

    Hal itu diamini oleh Ayu Rukini (32), istri Basori. "Saya juga mendengar suara itu. Waktu itu saya dan suami sedang menonton televisi. Saya mengira tentara Angkatan Udara sedang latihan," ujarnya.

    Fenomena ini diketahui pertama kali oleh Yudi (20). "Sekitar pukul lima pagi tadi, saya berangkat kerja. Sewaktu melewati sawah ini, saya melihat padi-padi ambruk tapi membentuk pola yang rapi," kata Yudi.

    Yudi menyanggah keterangan Basori tentang suara gemuruh yang terdengar semalam. Yudi yang tadi malam nongkrong di depan rumah Basori sampai pukul tiga pagi tidak mendengar suara apa pun. "Bahkan semalam tidak ada hujan atau angin. Tahu-tahu tadi pagi sudah terbentuk pola ini (lingkaran) di tengah sawah," ujar Yudi.

    Fenomena ini dapat dilihat dengan jelas dari puncak bukit di utara sawah. Warga setempat menyebut bukit itu Gunung Suru. Puluhan warga menaiki Gunung Suru untuk melihatnya. Hujan turun dan jalan ke puncak bukit yang sangat licin tidak membuat surut antusiasme warga untuk melihat fenomena ini.

    "Apakah ada UFO mendarat di sini? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas ini adalah kebesaran Allah. Mungkin Allah memperingatkan manusia untuk menjaga alamnya," kata Syamsul Bahri (37), warga Beloran, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang datang untuk melihat dari puncak Gunung Suru.

    Jauhari (34), warga Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang rela jatuh bangun karena licinnya jalan menuju puncak Gunung Suru, berujar, "Ini seperti fenomena pendaratan UFO, yang sering dibahas di televisi. Tapi, saya tidak tahu apakah benar adanya. Hanya Allah yang tahu sebabnya."

    Fenomena misterius semacam ini sering dijumpai di beberapa tempat.


    SLEMAN, KOMPAS.com — Pola geometris yang tiba-tiba muncul di areal persawahan Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, mengundang berbagai tafsiran. Jauhari (34), warga Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, mengaitkannya dengan fenomena UFO.

    Fenomena unidentified flying object (UFO) memang kerap dihubungkan dengan munculnya pola geometris di berbagai negara. Entah benar atau tidak, Jauhari mengaku takjub menyaksikan peristiwa langka di persawahan yang terletak tak jauh dari Bandara Internasional Adisucipto ini.

    Ia pun rela jatuh bangun mendaki ke puncak Gunung Suru yang jalannya licin untuk melihat pola itu secara keseluruhan. Jauhari tak sendirian karena ada banyak warga yang menyaksikan fenomena unik pertama di wilayah Yogyakarta, atau bahkan kemungkinan pertama di Indonesia itu.

    "Ini seperti fenomena pendaratan UFO yang sering dibahas di televisi, tapi saya tidak tahu apakah benar adanya. Hanya Allah yang tahu sebabnya," ucapnya kepada Tribun di lokasi, Minggu (23/1/2011) sore.

    Sebatas yang ia lihat, Jauhari tak mendengar keterangan apa pun terkait terbentuknya pola misterius itu, termasuk suara gemuruh seperti yang didengar oleh saksi mata Basori.

    Yudi, pemuda Desa Rejosari yang pertama kali melihat pola itu di sawah, juga mengaku tak mendengar suara apa-apa. Padahal, Yudi nongkrong di depan rumah Basori sampai pukul 03.00.

    "Bahkan semalam tidak ada hujan atau angin. Tahu-tahu tadi pagi sudah terbentuk pola ini (lingkaran) di tengah sawah," imbuh Yudi. (Tribun Jogja/Hendi Kurniawan)


    sumber :Kompas.com